Takahiro Shiraishi

Kisah ‘Twitter Killer’, Pembunuh Sadis yang Mutilasi Korbannya dan Disimpan di Kulkas

0 Comments

Sebuah kasus pembunuhan keji pernah terjadi di Jepang pada tahun 2017. Pria bernama Takahiro Shiraishi menjadi dalang dibalik persoalan mengerikan itu.

Takahiro Shiraishi hingga dijuluki sebagai ‘Twitter Killer’, gara-gara modus untuk menggaet para korbannya manfaatkan sarana sosial Twitter. Setelah itu, ia pun membunuhnya dengan cara yang sangat sangat keji.

Siapa Takahiro Shiraishi?

Takahiro Shiraishi adalah pembunuh berantai dan pemerkosa Jepang. Setelah kasusnya terbongkar, banyak situs judi bola terpercaya orang yang melabeli dirinya sebagai ‘Twitter Killer’.

Di Zama, Jepang, pada Agustus dan Oktober 2017, dia telah membunuh sembilan orang. Kebanyakan korbannya adalah wanita muda, terhitung tiga gadis SMA.

Shiraishi diketahui tinggal di flat berukuran 13 mtr. persegi yang berlokasi di Zama, Jepang. Saat baru lulus SMA, ia jatuh ke didalam industri seks yang kondang di Tokyo.

Di sana, ia beroleh tugas memikat wanita muda untuk bekerja di klub-klub di Jepang. Shiraishi mengandalkan sarana sosial Twitter, untuk menggaet para calon pelacur.

Akibat pekerjaannya itu, Shiraishi ditangkap oleh pihak kepolisian Jepang dan dijatuhi hukuman percobaan. Pada kala itu, ia mengaku bahwa kebugaran mentalnya merasa terganggu dan mengatakan pada ayahnya kecuali ia punyai ‘pikiran yang gelap’.

Sejak berada di didalam sel, Takahiro Shiraishi terhitung punyai obsesi untuk bunuh diri. Hanya saja, ia tidak bisa laksanakan itu gara-gara satu dan lain hal.

Baca juga:

Sinopsis Film Membabi Buta, Yang Konon Diadaptasi Dari Kisah Nyata

Rekomendasi Film Horor Terseram Sepanjang Masa, Wajib Ditonton!

Modus yang Digunakan Shiraishi untuk Mendapatkan Korbannya

Shiraishi mendekati korbannya melalui Twitter, menawarkan untuk menopang mereka yang punyai permintaan untuk bunuh diri.

Ia lebih-lebih mau mati dengan korbannya, demi menggaet mangsa baru. Namun, itu seluruh hanya akal-akalan Shiraishi saja.

Mayoritas korban Shiraishi adalah berjenis kelamin perempuan dari usia 15 hingga 26 tahun. Tak jarang, ia memperkosanya lebih-lebih dahulu sebelum akan selanjutnya dibunuh.

Shiraishi terhitung dilaporkan telah membunuh tidak benar satu pacar korbannya, gara-gara kuatir aksinya dapat terungkap, kata penyelidik, dilansir dari 9News.

Cara Shiraishi untuk membunuh korbannya adalah dengan mencekiknya hingga tewas. Setelah itu, ia dimutilasi jadi sebagian bagian dan disimpan di didalam flatnya.

Pembunuhan yang Dilakukan Takahiro Shiraishi Mulai Terungkap

Pembunuhan berantai yang ditunaikan Takahiro Shiraishi pertama kali terungkap pada Halloween tahun 2017.

Saat itu, polisi mendapatkan potongan-potongan tubuh di didalam flat Shiraishi di kota Zama Jepang, dekat Tokyo. Temuan itu terjadi saat polisi sedang mencari seorang wanita berusia 23 tahun yang hilang, yang ternyata wanita itu adalah tidak benar satu korban keganasan Shiraishi.

Saat wanita itu dinyatakan hilang, saudara laki-lakinya sengaja terhubung account Twitter miliknya, dan mendapatkan pesan menyangsikan yang melibatkan Takahiro Shiraishi dengan wanita tersebut.

Pesan itu terhitung tunjukkan alamat lengkap flat yang ditinggali oleh Shiraishi. Bersama pihak kepolisian, saudara wanita itu pun segera bergegas menuju flat yang dijuluki warga kira-kira sebagai ‘rumah angker’.

Di sana, mereka mendapatkan potongan tubuh dan tulang  mayat yang dimutilasi jadi 240 potongan disimpan di didalam cooler box. Shiraishi menimbun mayat para korbannya dengan manfaatkan pasir spesifik kotoran kucing.

Total nyawa yang dihabisi oleh Takahiro Shiraishi berjumlah 9 orang, dengan detail 8 berjenis kelamin perempuan dan 1 laki-laki.

Kasus Pembunuhan Takahiro Shiraishi Dibawa ke Meja Hijau

Saat jaksa menunut Shiraishi hukuman mati, pengacaranya justru beralasan bahwa aksi yang ditunaikan oleh kliennya telah beroleh persetujuan dari para korbannya. Dengan kata lain, korban setuju untuk dibunuh Shiraishi.

Namun, Shiraishi justru melontarkan pengakuan yang sebaliknya. Ia mengatakan bahwa aksinya adalah murni pembunuhan, dan tidak ada persetujuan dari korban.

Bukti kuat yang menopang pengakuan Shiraishi adalah adanya sebuah luka memar di belakang kepala korban yang dipukul oleh Shiraishi agar korbannya tidak bisa melawan.

Takahiro Shiraishi selanjutnya dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan. Ia mengaku bersalah dan tidak dapat mengajukan banding atas hukumannya tersebut.

Related Posts