Mengapa The Godfather Part III dijelek-jelekkan secara tidak adil

Mengapa The Godfather Part III dijelek-jelekkan Secara Tidak Adil

0 Comments

Dialog paling populer di Bagian III – Al Pacino sebagai tokoh mafia tua Michael Corleone yang menggeram

Trilogi mafia berakhir dengan bab penutup yang sudah lama difitnah. Namun dikala penghitungan kembali baru dirilis, 30 tahun kemudian, Caryn James menyatakan penghitungan kembali berikut layak untuk dievaluasi ulang.

Bagian terakhir berasal dari trilogi Godfather diakui sebagai bencana artistik supaya Anda mungkin mengira Francis Ford Coppola lupa cara membawa dampak film dalam 16 tahun sesudah The Godfather Part II (1974). Dialog paling populer di Bagian III – Al Pacino sebagai tokoh mafia tua Michael Corleone yang menggeram, “Ketika saya berpikir saya keluar, mereka menarik saya kembali” – sudah menjadi bahan tertawaan.

Lebih layaknya ini:

  •  Kengerian lockdown yang paling hebat
  • Dua belas film untuk ditonton di bulan Desember
  • Apakah ini akhir berasal dari film gangster?

Namun 30 tahun sesudah dirilis, inilah saatnya untuk menyelamatkan Godfather III berasal dari reputasi buruknya. Penampilan sentral Pacino yang fasih, berapi-api, dan penuh pengetahuan mendapat dukungan oleh sebagian set piece bravura yang merupakan mahakarya mini. Dengan gaung yang disengaja berasal dari film-film Godfather sebelumnya, ada nyanyian dan tarian di pesta keluarga, pembunuhan yang berani sepanjang festival jalanan San Gennaro, sebuah tragedi di tangga gedung opera di Sisilia.

Melihat ke belakang sendiri dapat berikan sadar kita betapa seriusnya film berikut sudah diremehkan, lebih-lebih tanpa versi Coppola yang baru dipulihkan, diedit ulang, dan diganti namanya. Sekarang judulnya Mario Puzo’s The Godfather, Coda: The Death of Michael Corleone. Menyebutnya sebagai coda mengutamakan hubungannya dengan seri sebelumnya, dan lebih-lebih berarti statusnya yang lebih rendah. Dan kata ‘kematian’ berarti keniscayaan yang gelap, biarpun makna kata berikut lebih licin daripada yang keluar terhadap pandangan pertama.

Dua belas menit lebih pendek, ia sesuaikan kembali sebagian episode penting, menghilangkan sebagian adegan kecil dan memotong garis di sana-sini. Tapi hingga akhir ceritanya diubah, terhadap dasarnya film ini sama, lebih baik di sebagian bagian daripada secara keseluruhan. Terlalu cacat untuk mampu menyamai pencapaian The Godfather (1972) atau sekuelnya, yang keduanya merupakan salah satu film paling berpengaruh dan berpengaruh di abad ke-20. Mereka sudah menembus budaya, mulai berasal dari bhs mereka (“Saya dapat memberinya tawaran yang tidak mampu dia tolak”) hingga kisah khas Amerika berkenaan imigrasi dan mobilitas ke atas. Namun versi baru ini memperjelas visi epik Coppola, mengungkap betapa kisah Corleone selamanya menjadi milik Michael, sebuah kisah moral yang mendalam berkenaan rasa bersalah dan penebusan. Dia kebetulan adalah bos mafia.

Bagi saya tragedi The Godfather, yakni tragedi Amerika, adalah berkenaan Michael Corleone – Francis Ford Coppola

Coppola selamanya sadar berkenaan visi trilogi tersebut, lebih-lebih dikala orang lain bingung. “Bagi saya tragedi The Godfather, yakni tragedi Amerika, adalah berkenaan Michael Corleone,” katanya dalam tambahan terhadap set DVD berasal dari tiga film yang dirilis terhadap tahun 2001. Dia menghendaki The Death of Michael Corleone menjadi judulnya. terhadap tahun 1990, tapi Paramount, studio yang merilisnya, tidak melakukannya. Penerimaan awal film ini diukur dengan kekecewaan, bukan penolakan atau kengerian layaknya yang kita asumsikan sekarang.

Roger Ebert sesungguhnya menyukainya. Pauline Kael tidak menyukai atau membencinya, tapi memberi tambahan penilaian yang merendahkan dan merendahkan. “Saya tidak berpikir itu dapat menjadi penghinaan publik.” Ekspektasinya tinggi gara-gara warisan berasal dari film-film sebelumnya, tapi rendah gara-gara Bagian III datang dengan rasa putus asa dan terjual habis. Coppola sudah menampik membawa dampak Godfather kembali sepanjang bertahun-tahun, lantas menulis skenarionya (dengan Mario Puzo) dan mengeditnya dengan terburu-buru supaya mampu dirilis terhadap Hari Natal. Bahkan mendapat tujuh nominasi Oscar, termasuk film dan sutradara terbaik. Ini adalah umpama aneh berasal dari sebuah film yang reputasinya alami penurunan sepanjang sebagian dekade.

Mengapa film ini disalahpahami

Dulu dan sekarang, serial ini sebagian besar sudah disalahpahami. Film-film kriminal layaknya yang dibuat oleh Coppola dan Martin Scorsese begitu menggoda supaya para pemirsa menyukainya gara-gara tampaknya mengagung-agungkan kecintaan dapat kekuasaan dan konsep kehormatan di kalangan pencuri. Namun, di balik permukaannya yang ramah mafia, mereka dibangun di atas tema etika yang tidak mampu dipahami oleh sifat mereka yang lebih pemarah.

Godfather Coda berikan sadar kita bahwa kejahatan tidak dapat menghasilkan hasil kecuali Anda siap mencari jiwa Anda. Michael muda bergumul dengan inspirasi pembunuhan dan kejahatan di Godfather pertama. Konsekuensi berasal dari keputusannya sangat perlu dalam Bagian III, yang terjadi terhadap tahun 1979, 20 tahun sesudah momen Godfather II. Michael, seorang miliarder yang tinggal di New York, sudah menjadikan bisnisnya sah dan kudu bergulat dengan kesalahannya atas begitu banyak kejahatan, khususnya memerintahkan pembunuhan saudaranya Fredo, yang mengkhianatinya.

Film ini masih mempunyai kasus yang tidak mampu diubah oleh pengeditan sebanyak apa pun. Dalam plot utama yang membingungkan, Michael coba menyita alih konglomerat Eropa bernama International Immobiliare. Dengan belanja saham Vatikan, dia dapat memberi tambahan dana talangan kepada bank Vatikan yang korup. Bagian keluarga berasal dari cerita ini berkisar terhadap keponakan Michael, Vincent Mancini, anak tidak sah berasal dari saudaranya Sonny.

Andy Garcia adalah Vincent sebaik yang Anda harapkan, tampan, angkuh, kasar, dinamis di layar. Tapi karakternya tidak dulu masuk akal. Vincent mempunyai sifat ayahnya yang gampang marah dan bahagia laksanakan kekerasan, tapi entah bagaimana ia beralih berasal dari preman yang tidak sangat cerdas menjadi ahli trik kejahatan yang cerdik dan tertanggulangi dalam hitungan bulan. Perubahannya jauh berasal dari lintasan sifat metodis yang mengasyikkan yang mempunyai Michael muda berasal dari idealis menjadi pembunuh di Godfather pertama.

Alamy Elemen film yang paling banyak dikritik adalah penampilan Sofia Coppola sebagai putri Michael, Mary (Kredit: Alamy)Tentu saja
Hak atas foto Alamy
Dan elemen film yang paling banyak dikritik tidak lebih baik berasal dari yang diingat siapa pun. Winona Ryder, yang ditetapkan untuk memerankan putri Michael, Mary, keluar sebagian minggu sebelum saat syuting diawali dan digantikan dengan nepotisme tanpa malu-malu oleh putri remaja Coppola, Sofia. Saat ini, kita mengenal Sofia Coppola sebagai sutradara yang brilian, tapi gampang untuk melihat mengapa penampilan amatirnya membuatnya menjadi sasaran lelucon Godfather III, khususnya gara-gara kisah cinta canggung dan tanpa gairah yang tidak disengaja pada Mary dan sepupunya Vincent. Coppola sesungguhnya memotong sebagian baris Sofia di versi baru.

Dia membawa dampak pergantian besar di awal film yang diedit ulang, menghilangkan awal asli yang indah. Ini memberi tambahan suara elegi dengan menampilkan gambar tempat tinggal keluarga yang ditinggalkan di Danau Tahoe berasal dari Bagian II, dan mencakup kilas balik ke kematian Fredo, saat musik soundtrack Nino Rota yang akrab mengingatkan jaman lalu. Versi baru diawali dengan seorang uskup agung yang bermuka dua meminta pertolongan Michael untuk Vatikan, sebuah adegan yang awalannya di tempatkan lantas dalam film tersebut. Perubahan berikut menyoroti kronologis keuangan tanpa membuatnya lebih jelas.

Awal yang menggembirakan

Namun film ini segera memperlihatkan permulaannya yang sesungguhnya dan menggembirakan. Beberapa generasi Corleone, dengan kawan dan kawan bisnis, berkumpul di pesta untuk merayakan Michael. Adiknya, Connie, menyanyikan lagu Italia, saat pengunjung yang tampak meragukan berikan penghormatan kepada Michael di kantornya. Dia saat ini mempunyai rambut beruban dan wajah berkerut, dan juga mengendalikan keluarga dan bisnisnya dengan kapabilitas otoriter. Urutan 30 menit yang luar biasa ini menggemakan pernikahan Connie di awal The Godfather, dan pesta Komuni Pertama di Lake Tahoe yang mengawali Godfather II.

Kantor Michael lebih-lebih mempunyai sinar yang mirip yang menembus tirai layaknya yang kita melihat di kantor ayahnya di Godfather pertama, dikala Marlon Brando sebagai Vito Corleone menerima pengunjung. Secara keseluruhan, panggilan balik ke film-film pada mulanya tingkatkan resonansi sekaligus mengungkap secara gamblang bagaimana segala sesuatunya sudah berubah. Michael terbebani oleh hati nurani yang tidak dulu dialami Vito. “Saya tidak meminta maaf,” kata Vito kepada Michael menjelang akhir The Godfather, membetulkan kebrutalannya gara-gara dia berusaha menyelamatkan keluarganya. Godfather III adalah berkenaan keperluan Michael untuk menebus dosanya.

Penampilan Al Pacino mungkin menjadi bahan cemoohan, tapi dia sadar apa yang dia lakukan.

Adegan pesta mengalir dengan gampang gara-gara membawa dampak setiap sifat selamanya up-to-date. Diane Keaton mirip cekatannya dengan mantan istri Michael, Kay, yang memohon padanya untuk mengizinkan putra mereka, Tony, mengejar karier sebagai penyanyi opera. Kay mampu menjadi orang yang santai. “Tony sadar anda membunuh Fredo,” dia memperingatkan Michael. Namun dia tidak dulu mampu melupakannya, layaknya yang kita melihat di adegan selanjutnya dikala mereka berbincang-bincang sambil menangis di Sisilia, sebuah adegan yang dibuat oleh Pacino dan Keaton dengan sangat menyakitkan.

BACA JUGA : Pembunuh Berantai ‘Golden State Killer’ di AS Akui Bersalah

Connie, yang diperankan dengan ketajaman dan kecerdasan luar biasa oleh Talia Shire, sudah beralih menjadi Lady Macbeth. Putri mafia tidak dulu mampu mengendalikan segala sesuatunya, tapi mereka mampu mengendalikan keadaan. Connie-lah yang dengan kejam berikan sadar Vincent, “Kamu satu-satunya di keluarga ini yang mempunyai kapabilitas ayahku. Jika terjadi sesuatu terhadap Michael, saya menghendaki anda membalas.” Dia sudah bertanya orang yang tepat.

Related Posts