Review Film Gita Cinta dari Kisah SMA 2024

0 Comments

Saya menonton Gita Cinta dari SMA dengan berbekal sedikit pengetahuan akan sinopsis film aslinya yang dirilis tahun 1979, tidak sampai detil berupa adegan demi adegan. Namun, tanpa tahu cerita aslinya, saya dapat menjamin bahwa penonton akan tetap bisa terbawa romantisme antara kedua pemeran utamanya. Toh cerita yang dibawakan adalah slot min depo 5k sebuah kisah percintaan yang umum. Bedanya, latar tahun 1980-an tetap dipertahankan sebagaimana materi aslinya yang bercerita di masa Orde Baru.

Ratna (Prilly Latuconsina) yang pindah sekolah jatuh cinta pada siswa sekelasnya, Galih (Yesaya Abraham). Galih sendiri dikenal sebagai siswa teladan yang disukai banyak siswi. Wajar apabila Erlin (Arla Ailani) dan Mimi (Chantiq Schagerl), teman sekelas yang langsung dekat dengan Ratna, memperingati Ratna untuk tidak jatuh cinta pada Galih. Namun ternyata, Galih juga diam-diam mengagumi Ratna dan cinta keduanya mudah bersatu. Penghalang utama kisah mereka bukanlah Anton (Fadi Alaydrus), siswa lain yang mengejar cinta Ratna. Melainkan ayah Ratna (Dwi Sasono) yang tidak merestui kedekatan Galih dan anaknya. Ditambah lagi dirinya berencana menjodohkan Ratna ketika Ratna masuk kuliah.

Karena film ini tetap setia dengan materi aslinya, saya menjadi mudah mengerti bahwa Gita Cinta Dari SMA (1979) memuat cerita percintaan yang menjadi inspirasi bagi film-film remaja berikutnya. Termasuk Ada Apa Dengan Cinta (2002) yang populer di kalangan penonton seusia saya. Bahkan saya menemukan cukup banyak adegan dari film ini yang mengingatkan saya pada AADC, dari mulai adegan latihan menari bersama hingga musikalisasi puisi oleh pemeran utama perempuannya. Saya pun percaya bahwa karya Arizal tersebut masih begitu dikenang oleh para penontonnya. Buktinya, saya mendengar celetukan seorang ibu yang merasa bahwa film aslinya lebih mengharukan dibanding versi remake-nya ini.

Saya cukup suka dengan pemilihan latar pada film ini yang banyak melibatkan rumah atau gedung tua demi menggambarkan suasana 80-an. Suasana klasik tersebut tidak hanya digambarkan secara visual, tetapi turut direpresentasikan dalam konflik percintaan Galih dan Ratna. Apa yang mereka hadapi ibarat kesulitan yang dialami rakyat kita pada masa tersebut. Namun, Galih dan Ratna tidak perlu melawan pemimpin yang otoriter karena ayah Ratna sudah memiliki karakter yang otoriter. Jika pada film aslinya sang ayah membenci Galih karena perbedaan suku, dalam naskah adaptasi dari Alim Sudio kini alasannya lebih karena perbedaan status sosial. Sang ayah tidak hanya mengekang anaknya di rumah, tetapi juga di sekolah dan lingkaran pertemanannya. Suasana Orde Baru pun begitu kental ketika tiba pada adegan obrolan pertama sang ayah dengan Galih. Tidak hanya Ratna, sang ibu (Unique Priscilla) dan Ayu (Putri Ayudya) – tante dari Ratna turut dikekang sang kepala keluarga.

Dalam 103 menit durasinya, film ini lebih banyak bercerita tentang Ratna. Karakternya juga yang paling banyak dieksplor dan dibuat lebih berjuang. Beda halnya dengan karakter Galih yang memilih bersabar untuk menang. Keluarga Galih juga baru diperlihatkan beberapa saat sebelum memasuki babak ketiga. Itu pun demi menunjukkan kontrasnya kelas dari keluarga Galih dan Ratna. Sementara itu, konflik orang ketiga yang melibatkan Anton dibuat tampak remeh saja. Antara naskahnya ingin memfokuskan hambatan Galih dan Ratna pada restu sang ayah atau menunjukkan karakter Anton yang ibarat “tong kosong nyaring bunyinya”.

Seperti biasa, Prilly dapat turut mengangkat penampilan lawan mainnya. Terkait Yesaya Abraham, saya masih bingung apakah dirinya memang agak kaku dalam berakting atau kebetulan mendapatkan karakter sedingin Galih. Namun, cast yang paling mencuri perhatian saya adalah Putri Ayudya. Ingat adegan long take dari karakter Sarma dalam Ngeri-Ngeri Sedap (2022)? Dirinya menyajikan adegan yang sama mengharukannya demi membela Ratna yang dikekang ayahnya. Sedikit cerita tentang Ayu pun diungkap, diakhiri sebuah gesture yang menyiratkan rasa kehilangan akut.

Saya memaafkan adegan musikal yang agak cringe pada film ini karena cerita keseluruhannya yang memang mengesankan. Saking berhasilnya film ini menghantarkan rasa kehilangan, saya langsung mencari tahu tentang materi aslinya. Saya pun dengan setia menanti Puspa Indah Taman Hati yang mana akan kembali menampilkan Prilly sebagai dua tokoh yang berbeda tetapi sama-sama hadir dalam hidup karakter Galih.

Related Posts